Tuesday, 18 June 2013


ASUHAN KEPERAWATAN

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
IVP     : Memperlihatkan ukuran/lokasi ginjal dan ureter dan mengesampingkan adanya tumor lain dalam saluran perkemihan. Sitoskopi dengan biopsi: menentukan lokasi tumor/derajat keganasan. Sitoskopi ultraviolet menggambarkan lesi kandung kemih
Skan tulang     : menentukan adanya penyakit metastasis
Limpangiografi pedal bilateral : menentukan keterlibatan nodus pelvis, dimanana tumor kandung kemih dengan mudah ditempatkan karena dekat proksimal.
Skan CT : Mendefinisikan sel tumor dalam urine(untuk menentukan adanya dan tipe tumor).
Endoskopi : mengevaluasi usus untuk digunakan sebagai saluran.
Konduitogram: Mengkaji panjang dan kemampuan mengosongkan saluran dan adanya struktur, obstruksi, refluks, angulasi, batu, atau tumor (mungkin rumit atau kontraindikasi untuk diversi urinarius).

DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
1.      Resiko Tinggi terhadap kerusakan integritas Kulit berhubungan dengan tak adanya sfingter stoma,karakter/aliran urine dari stoma.
Kriteria Hasil    :mempertahankan integritas kulit,mengidentifikasi faktor risiko individual, menunjukkan perilaku/teknik untuk meningkatkan
  penyembuhan/mencegah kerusakan kulit.
INTERVENSI:
1)   Inspeksi stoma/kulit peristoma. Perhatikan iriasi, lebam (gelap, warna lebam), kemerahan, status jahitan.
R/mengawasi proses penyembuhan/keefektifantindakan, dan mengidentifikasi area, masalah, kebutuhan evaluasi lanjut/intervensi. Stoma harus kemerahmudaan atau kemerahan. Sama dengan membran mukosa. Perubahan warna mungkin sementara, tetapi perubahan menetap dapat memerlukan intervensi medik. Identifikasi dini nekrosis stoma/iskemia atau infeksi jamur memberikan waktu intervensi utnuk mencegah nekrosis kulit.
2)   Bersihkan dengan air dan lap kering (atau menggunakan pengering rambut pada situasi dingin)
R/Mempertahankan kebersihan/area kering membantu untuk mencegah kemudahan gesekan atau trauma.
3)      pengukuran stoma secara periodik, contoh tiap penggantian alat untuk 6 minggupertama, kemudian sebulan 6 kali.
R/Sesuai dengan membaiknya edema pascaoperasi (selama 6 minggu pertama),ukuran alat harus berubah untuk meyakinkan kecocokan yang tepat sehinnga urine tertampung sesuai aliran ke stoma, dan kontak dengan kulit dicegah
4)      Berikan pelindung yang efektif, contoh skin prep atau produk sejenis.
R/Melindungi kulit dari perekat kantung, meningkatkan kerekatan kantong, dan memudahkan pengangkatan kantong bila perlu.
Gunakan kantong transparan, tahan bau, dan dikeluarkan. Pertahankan kasa segi empat diatas stoma sementara membersihkan stoma dan biarkan pasien batuk atau mengejan sebelum meletakkan kantong.
R/Kantung transparan selama 4-6 minggu pertama memungkinkan observasi mudah pada stoma dan stent (bila menggunakan) tanpa perlu melepaskan kantong dan iritasi kulit. Penutupan stoma mencegah urine membasahi area periostomal selama kantong diganti. Batuk mengosongkan bagian distal saluran, memungkinkan penghnetian sebentar untuk memudahkan pemasangan kantung.
5)      Bersihkan ostomi kantung dengan rutin, gunakan cairan cuka.
R/Penggantian kantong yang sering mengiritasi kulit dan harus dihindari. Pengosongan dan pencucian kantong dengan cuka tidak hanya menghilangkan bakteri tetapi juga menghilangkan bau kantung.
6)      Berikan sprei atau bedak antijamur, sesuai indikasi.
R/Membantu dalam penyembuhan bila iritasi periostoma disebabkan oleh infeksi jamur. Produk ini dapat mempunyai efek samping poten dan harus digunakan dengan campuran. Krim/ salep dihindari, karena mempengaruhi perekatan alat.

2.      Nyeri akut berhubungan dengan faktor fisik, contoh gangguan kulit/jaringan (insiden/drein)
Kriteria Hasil     :menyatakan /menunjukan nyeri hilang, menunjukan kemampuan untuk membantu dalam tindakan kenyamanan umum dan mampu untuk tidur/istirahat dengan tepat.
INTERVENSI:
1)      Kaji nyeri, perhatikan lokasi, karakteristik, intensitas (skala 0-10)
R/Membantu evaluasi derajat ketidaknyamanan dan keefektifan analgesik atau menyatakan terjadinya komplikasi,contoh karena nyeri abdomen biasanya ada secara bertahap pada hari ketiga ataukeempat pascaoperasi,berlanjut atau meningkatnya nyeri dapat menunjukkan pelambatan penyembuhan, iritasi kulit periostomal, infeksi, obstruksi usus.
2)      Auskultasi bising usus; perhatikan pasase flatus.
R/Mengidentifikasi kembalinya fungsi usus. Gangguan dalam kembalinya bising/fungsi usus dalam 72 jam dapat mengidentifikasikan adanya komplikasi, contoh peritonitis, hipokalemia, obstruksi mekanik.
3)      Berikan tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, penguatan posisi (penggunaan tindakan dukungan sesuai kebutuhan). Yakinkan pasien bahwa pengubahan posisi tidak akan mencederai stoma.
R/Menurunkan tegangan otot, meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
4)      Berikan obat sesuai indikasi, contoh narkotik, analgesik, ADP
R/Menghilangkan nyeri, meningkatkan kenyamanan dan meningkatkan istirahat. ADP dapat lebih menguntungkan daripada analgesik intermiten, khususnya setelah reseksi radikal.

3.      Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan kerusakan kulit/insisi
Kriteria Hasil     :Meningkatkan waktu penyembuhan dengan tepat, bebas dari drainase purulen atau eritema, dan tidak demam, menyatakan pemahan penyebab individual/faktor risiko, menunjukkan teknik,perubahan pola hidup untuk menurunkan resiko.
INTERVENSI:
1)      Kosongkan kantung ostomi bila menjadi penuh sepertiga saat cairan IV dan drainase kantung kontinu dilepaskan.
R/Menurunkan risiko refluks urine dan mempertahankan integritas alat.
2)      Catat karakteristik urine, dan perhatikan apakah perubahan berhubungan dengan keluhan nyeri panggul.
R/Urine keruh dan bau menunjukkan infeski (kemungkinan pielonefritis); namun urine secara normal mengandung mukus setelah prosedur pembuatan saluran.
3)      Perhatikan kemerahan disekitar stoma.
R/Kemerahan paling umum disebabkan oleh jamur kebocoran urine atau alergi pada alat atau produk dapat juga menyebabkan kemerahan, area iritasi.
4)      Inspeksi garis insisi sekitar stoma. Observasi dan catat drainase luka, tanda inflamasi insisi, indikator sistemik sepsis
R/Memberikan pengetahuan dasar. Komplikasi dapat meliputi terhambatnya anastomosis usus halus/besar atau saluran uretra, dengan kebocoran isi usus kedalam abdomen atau urine kedalam rongga peritoneal.
5)      Ganti balutan sesuai indikasi, bila memakai.
R/Drainase basah bertindak sebagai sumbu untuk luka dan memberikan media untuk pertumbuhan bakterial.
6)      Gunakan kantong dengan katup antirefluks, bila ada.
R/Mencegah aliran balik urine kedalam stoma, menurunkan risiko infeksi.
7)      Berikan obat sesuai indikasi: sefalosporin contoh sefoksitin (mefoxin), sefazolin (ancef).
R/Untuk mengobati infeksi yang teridentifikasi atau secara profilaktik, khususnya pada riwayat pielonefritis berulang.