Tuesday, 18 June 2013

makalah gangguan kehamilan solusio placenta dan gangguan persalinan partus lama


ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN KEHAMILAN SOLUSIO PLACENTA DAN GANGGUAN PERSALINAN PARTUS LAMA

MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Sistem Reproduksi




Di Susun Oleh :
Alvian Pristy Windiramadhan
Diana Muktar
Ina
M. Dians Yusuf Alen
Marsiana Anggraeni
Riko
Susilawati


YAYASAN INDRA HUSADA
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) INDRAMAYU
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2013

KATA PENGANTAR


Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan Rahmat sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Maksud dan tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sistem Mnajemen keperawatan pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ( STIKes ) Indramayu. Makalah ini di beri judul : “Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Kehamilan Solusio Placenta dan Gangguan Persalinan Partus Lama”.
Penulis juga merasakan tidak sedikit kesulitan-kesulitan yang dihadapi, namun berkat bantuan dan dukungan serta partisipasi dari berbagai pihak baik berupa bimbingan, sumbangan pemikiran, materi, dan tenaga serta dorongan semangat yang tidak ternilai harganya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis membuka diri untuk menerima saran serta kritikan yang sifatnya membangun maupun masukan-masukan lain yang amat berarti untuk perbaikan.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ungkapan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1.      Drs. H. Turmin, BSc. Selaku Ketua Yayasan Indra Husada.
2.      Lily Yulaikha, S.Si.T. Selaku Ketua STIKes Indramayu
3.      M.Saefulloh,M.Kep. Selaku Ketua Prodi Ilmu Keperawatan.
4.      Dede Husna, S.Kep., Ns. Selaku Wali Kelas Ilmu Keperawatan Semester VI.
5.      Kitri. H , S.Kep., Ns. Selaku Dosen Mata Sistem Reproduksi
6.      Orang tua dan keluarga tersayang, yang telah banyak memberikan inspirasi dan dorongan semangat sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Sistem Reproduksi
7.      Teman-teman yang tidak mungkin penulis sebutkan satu-persatu, yang telah banyak membantu dalam penyusunan makalah ini.
Semoga Tuhan berkenan untuk membalas kebaikan tersebut dengan pahala yang berlipat ganda. Hanya kepada Tuhan jua kita memohon , hanya kepada Tuhan kita berserah diri, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Perkasa. Amin.
Harapan penulis semoga makalah ini dapat memberikan sumbangan pemikiran yang bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.



       Indramayu,   Mei  2013



                                                                                                           Penulis















DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...........................................................................................  ii
DAFTAR ISI ...........................................................................................................  iv
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................  1
1.1 Latar Belakang....................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................. 1
1.3 Tujuan..................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN TEORI ..................................................................................  3
2.1  SOLUSIO PLACENTA........................................................................ 3
A.  Pengertian Solusio Placenta............................................................ 3
B.   Etiologi .............................................................................................  4
C.  Patofisiologi....................................................................................... 5
D.  Manifestasi Klinis............................................................................. 5
E.   Pemeriksaan Diagnostik.................................................................. 5
F.   Komplikasi........................................................................................ 6
G.  Penatalaksanaan.............................................................................. 9
2.2  ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN KEHAMILAN SOLUSIO PLACENTA ..........................................................................................  10
A.  Pengkajian........................................................................................ 10
B.  Diagnosa Keperawatan.................................................................... 12
C.  Intervensi........................................................................................... 13
2.3  PARTUS LAMA................................................................................... 16
A.    Pengertian Partus Lama.................................................................. 16
B.     Etiologi.............................................................................................. 16
C.    Patofisiologi....................................................................................... 16
D.    Manifestasi Klinis............................................................................. 18
E.     Pemeriksaan Diagnostik.................................................................. 19
F.     Komplikasi........................................................................................ 19
G.    Penatalaksanaan.............................................................................. 19
2.4  ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN PERSALLINAN PARTUS LAMA................................................................................... 21
A.  Pengkajian........................................................................................ 21
B.  Diagnosa Keperawatan.................................................................... 25
C.  Intervensi........................................................................................... 26
BAB III PENUTUP ................................................................................................  29
3.1 Kesimpulan ............................................................................................  29
3.2 Saran ......................................................................................................  30
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  LATAR BELAKANG
Mortalitas dan morbiditas merupakan maslah besar di negara berkembnag. Di perkirakan ssetiap jam, dua perempuan mengalami kematian karena hamil atau melahirkan akibat komplikasi pada amsa hamil atau persalinan. Di negara miskin, sekitar 25-50% kematian wanita usia subur disebabkan oleh maslah yang  berkaitan dengan kehamilan, persalinan, nifas. World Health Organization (WHO) memperkirakan di seluruh dunia setiap tahunnya lebih dari 585.000 meninggal saat hamil atau bersalin. (D epkes RI, 2011).
Berdasarkan data yang di kumpulkan WHO di negara-negara maju angka kematian ibu berkisar 10-15%/100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) menjadi faktor penyebab menurunnya angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bidang kesehatan mortalitas dan morbilitas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang. (Sarwono, 2007 : 23)
Angka Kematian Ibu (AKI) ada Placenta adalah separasi premlah angka kematian yang  diperoleh dari kematian ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas per 100.000 kelahiran hidup pada waktu tertentu. Penyebab kematian maternal yaitu : perdarahan (60%), infeksi (25%), gestosi (15%) dan penyebab lainnya (5%).
Dari data diatas banyak masalah yang muncul pada kehamilan, persalinan dan nifas salah satunya adalah Solusio Placenta yang menjadi penyebab kematian maternal tertinggi serta banyaknya masalah Partus lama yang sekarang banyak terjadi di masyarat.

1.2  RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah “bagaimana asuhan keperawatan pada kllien dengan gangguan kehamilan solusio placenta dan gangguan persalinan partus lama?”

1.3  TUJUAN
A.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan memahami asuhan keperawatan terhadap klien dengan gangguan kehamilan solusio plasenta dan gangguan persalinan partus lama
B.     Tujuan Khusus
·      Untuk mengetahui dan memahami pengertian solusio plasenta dan partus lama
·      Untuk mengetahui dan memahami macam solusio plasenta dan partus lama
·      Untuk mengetahui dan memahami patologi dan etiologi dari solusio plasenta dan partus lama
·      Untuk mengetahui dan memahami penatalaksanaan keperawatan dari solusio plasenta dan partus lama













BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1  SOLUSIO PLACENTA
A. Pengertian
Solusio plasenta adalah Terlepasnya sebagian atau seluruh plasenta yang implantasinya normal, sebelum janin dilahirkan, pada masa kehamilan atau persalinan, disertai perdarahan pervagina, pada usia kehamilan 20 minggu.
Solusio plasenta (abruption plasenta atau accidental haemorage) adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri setelah kehamilan 20 minggu atau sebelum janin lahir
Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat.
Secara umum solusio placenta dapat dibagi menjadi :
a.       Solusio plasenta ringan
Ruptur sinus marginalis atau terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak akan menyebabkan perdarahan pervaginan berwarna kehitaman dan sedikit. Perut terasa agk sakit atau terus menerus agak tegang. Bagian janin masih mudah diraba.
b.      Solusio plasenta sedang
Plasenta telah terlepas lebih dari seperempat tanda dan gejala dapat timbul perlahan atau mendadak dengan gejala sakit terus menerus lalu perdarahan pervaginan. Dinding uterus teraba tegang.
c.       Solusio plasenta berat
Plasenta telah lepas dari dua pertiga permukaan disertai penderita shock.


B. Etiologi
1.    Disebabkan oleh Penyakit Pada ibu:  Renjatan, gagal ginjal akut (acute tubular necrosis), Koagulasi Intravaskular Diseminata (disseminated intravascular coagulation), atonia uteri/uterus couvelaire.
2.    Pada Janin meliputi: Asfiksia, BBLR, respiratory dystress syndrome (RDS).
3.    Karena Tindakan / Terapi Pada Ibu : Reaksi transfusi, kelebihan cairan, renjatan, infeksi, Pada Janin : asfiksia, infeksi, anemia.
4.    Faktor predisposisi yang mungkin ialah: Hipertensi kronik, trauma eksternal, tali pusat pendek, defisiensi gizi, merokok, konsumsi alkohol, penyalah gunaan kokain, umur ibu yang tua.
5.    Faktor pengunaan kokain. Penggunaan kokain mengakibatkan peninggian tekanan darah dan peningkatan pelepasan katekolamin, yang mana bertanggung jawab atas terjadinya vasospasme pembuluh darah uterus dan dapat berakibat terlepasnya plasenta. Namun, hipotesis ini belum terbukti secara definitif. Angka kejadian solusio plasenta pada ibu-ibu penggunan kokain dilaporkan berkisar antara 13-35% .
6.    Faktor kebiasaan merokok. Ibu yang perokok juga merupakan penyebab peningkatan kasus solusio plasenta sampai dengan 25% pada ibu yang merokok ≤ 1 (satu) bungkus per hari. Ini dapat diterangkan pada ibu yang perokok plasenta menjadi tipis, diameter lebih luas dan beberapa abnormalitas pada mikrosirkulasinya. Deering dalam penelitiannya melaporkan bahwa resiko terjadinya solusio plasenta meningkat 40% untuk setiap tahun ibu merokok sampai terjadinya kehamilan
7.    Riwayat solusio plasenta sebelumnya. Hal yang sangat penting dan menentukan prognosis ibu dengan riwayat solusio plasenta adalah bahwa resiko berulangnya kejadian ini pada kehamilan berikutnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ibu hamil lainnya yang tidak memiliki riwayat solusio plasenta sebelumnya
8.     Pengaruh lain, seperti anemia, malnutrisi/defisiensi gizi, tekanan uterus pada vena cava inferior dikarenakan pembesaran ukuran uterus oleh adanya kehamilan, dan lain-lain

C. Patofisiologi
Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua basalis yang kemudian terbelah dan meningkatkan lapisan tipis yang melekat pada mometrium sehingga terbentuk hematoma desidual yang menyebabkan pelepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut.
Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebabkan hematoma retro plasenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah, hingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut. Selanjutnya darah yang mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban.

D. Manifestasi Klinis
1.    Perdarahan biasanya pada trimester ketiga, perdarahan pervaginan berwarna kehitam-hitaman yang sedikit sekali dan tanpa rasa nyeri sampai dengan yang disertai nyeri perut, uterus tegang, perdarahan pervaginan yang banyak, syok dan kematian janin intra uterin.
2.    Tanda vital dapat normal sampai menunjukkan tanda syok.
3.    Nyeri tekan uterus dan tegang, bagian-bagian janin yang sukar dinilai, denyut jantung janin sulit dinilai / tidak ada, air ketuban berwarna kemerahan karena tercampur darah.

E. Pemeriksaan Diagnostik
1.    Pemeriksaan laboratorium
·      UHUrin : Albumin (+), pada pemeriksaan sedimen dapat ditemukan silinder dan leukosit.
·      Pemeriksaan laboratorium darah : hemoglobin, hemotokrit, trombosit, waktu protombin, waktu pembekuan, waktu tromboplastin, parsial, kadar fibrinogen, dan elektrolit plasma.
2.    Pemeriksaaan Ultrasonografi (USG)
Pada pemeriksaan USG yang dapat ditemukan antara lain :
·       Terlihat daerah terlepasnya plasenta
·       Janin dan kandung kemih ibu
·       Darah
·       Tepian plasenta
3.    Kardioktokgrafi : untuk mengetahui kesejahteraan janin
Pemeriksaan Status Obstetri
a.      Periksa Luar : Uterus terasa tegang atau nyeri tekan, bagian-bagian janin sulit diraba, bunyi jantung janin sering tidak terdengar atau terdapat gawat janin, apakah ada kelainan letak atau pertumbuhan janin terhambat.
b.      Inspeksi : Apakah perdarahan berasal dari ostium uteri atau dari kelainan serviks dan vagina. Nilai warna darah, jumlahnya, apakah encer atau disertai bekuan darah. Apakah tampak pembukaan serviks, selaput ketuban, bagian janin atau plasenta.
c.       Periksa Dalam :Perabaan fornises hanya dilakukan pada janin presentasi kepala, usia gestasi di atas 28 minggu dan curiga plasenta praevia. Nilai keadaan serviks, apakah persalinan dapat terjadi kurang dari 6 jam, berapa pembukaan, apa presentasi janin, dan adakah kelainan di daerah serviks dan vagina.

F. Komplikasi
Komplikasi solusio plasenta pada ibu dan janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas, usia kehamilan dan lamanya solusio plasenta berlangsung.
Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu :
1.      Syok perdarahan.
Pendarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hampir tidak dapat dicegah, kecuali dengan menyelesaikan persalinan segera. Bila persalinan telah diselesaikan,penderita belum bebas dari perdarahan postpartum karena kontraksi uterus yang tidak kuatuntuk menghentikan perdarahan pada kala III persalinan dan adanya kelainan pada pembekuan darah. Pada solusio plasenta berat keadaan syok sering tidak sesuai dengan jumlah perdarahan yang terlihat. Titik akhir dari hipotensi yang persisten adalah asfiksia, karena itu pengobatan segera ialah pemulihan defisit volume intravaskuler secepat mungkin. Angka kesakitan dan kematian ibu tertinggi terjadi pada solusio plasenta berat. Meskipun kematian dapat terjadi akibat nekrosis hipofifis dan gagal ginjal, tapi mayoritas kematian disebabkan syok perdarahan dan penimbunan cairan yang berlebihan. Tekanan darah tidak merupakan petunjuk banyaknya perdarahan, karena vasospasme akibat perdarahan akan meninggikan tekanan darah. Pemberian terapi cairan bertujuan mengembalikan stabilitas hemodinamik dan mengkoreksi keadaan koagulopathi. Untuk tujuan ini pemberian darah segar adalah pilihan yang ideal, karena pemberian darah segar selaindapatmemberikan sel darah merah juga dilengkapi oleh platelet dan faktor pembekuan.
2.      Gagal ginjal.
Gagal ginjal merupakan komplikasi yang sering terjadi pada penderita solusio plasenta, pada dasarnya disebabkan oleh keadaan hipovolemia karena perdarahan yang terjadi. Biasanya terjadi nekrosis tubuli ginjal yang mendadak, yang umumnya masih dapat ditolong dengan penanganan yang baik. Perfusi ginjal akan terganggu karena syok dan pembekuan intravaskuler. Oliguri dan proteinuri akan terjadi akibat nekrosis tubuli atau nekrosis korteks ginjal mendadak. Oleh karena itu oliguria hanya dapat diketahui dengan pengukuran pengeluaran urin yang harus secara rutin dilakukan pada solusio plasenta berat. hipovolemia, secepat mungkin menyelesaikan persalinan dan mengatasi kelainan pembekuan darah.
3.      Kelainan pembekuan darah.
Kelainan pembekuan darah pada solusio plasenta biasanya disebabkan oleh hipofibrinogenemia. Dari penelitian yang dilakukan oleh Wirjohadiwardojo di RSUPNCM dilaporkan kelainan pembekuan darah terjadi pada 46% dari 134 kasus solusio plasenta yang ditelitinya. Kadar fibrinogen plasma normal pada wanita hamil cukup bulan ialah 450 mg%, berkisar antara 300-700 mg%. Apabila kadar fibrinogen plasma kurang dari 100 mg% maka akan terjadi gangguan pembekuan darah.
Mekanisme gangguan pembekuan darah terjadi melalui dua fase, yaitu:
·         Fase I Pada pembuluh darah terminal (arteriole, kapiler, venule) terjadi pembekuan darah, disebut disseminated intravasculer clotting. Akibatnya ialah peredaran darah kapiler (mikrosirkulasi) terganggu. Jadi pada fase I, turunnya kadar fibrinogen disebabkan karena pemakaian zat tersebut, maka fase I disebut juga coagulopathi consumptive. Diduga bahwa hematom subkhorionik mengeluarkan tromboplastin yang menyebabkan pembekuan intravaskuler tersebut. Akibat gangguan mikrosirkulasi dapat mengakibatkan syok, kerusakan jaringan pada alat-alat yang penting karena hipoksia dan kerusakan ginjal yang dapat menyebabkan oliguria/anuria.
·         Fase II Fase ini sebetulnya fase regulasi reparatif, yaitu usaha tubuh untuk membuka kembali peredaran darah kapiler yang tersumbat. Usaha ini dilaksanakan dengan fibrinolisis. Fibrinolisis yang berlebihan malah berakibat lebih menurunkan lagi kadar fibrinogen sehingga terjadi perdarahan patologis. Kecurigaan akan adanya kelainan pembekuan darah harus dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium, namun di klinik pengamatan pembekuan darah merupakan cara pemeriksaan yang terbaik karena pemeriksaan laboratorium lainnya memerlukan waktu terlalu lama, sehingga hasilnya tidak mencerminkan keadaan penderita saat itu.
4.        Apoplexi uteroplacenta (Uterus couvelaire)
Pada solusio plasenta yang berat terjadi perdarahan dalam otot-otot rahim dan di bawah perimetrium kadang-kadang juga dalam ligamentum latum. Perdarahan ini menyebabkan gangguan kontraktilitas uterus dan warna uterus berubah menjadi biru atau ungu yang biasa disebut Uterus couvelaire. Tapi apakah uterus ini harus diangkat atau tidak, tergantung pada kesanggupannya dalam membantu menghentikan perdarahan.
Komplikasi yang dapat terjadi pada janin:
1. Fetal distress
2. Gangguan pertumbuhan/perkembangan
3. Hipoksia dan anemia
4. Kematian
G. Penatalaksanaan
1.    Terapi Medika.
a.       Tidak terdapat renjatan : usia gestasi < 36 minggu atau TBJ < 2500 gram.
1)      Ringan : terapi konservatif bila ada perbaikan (perdarahan berhenti, kontraksi uterus tidak ada, janin hidup dan keadaan umum ibu baik) dan dapat dilakukan pemantauan ketat keadaan janin dan ibu. Pasien tirah baring, atasi anemia, USG dan KTG serial (bila memungkinkan) dan tunggu partus normal. Terapi aktif dilakukan bila ada perburukan (perdarahan berlangsung terus, kontraksi uterus terus berlangsung, dan dapat mengancam ibu dan atau janin). Bila perdarahan banyak, skor pelvik < 5 atau persalinan masih lama > 6 jam, lakukan seksio sesarea. Bila partus dapat terjadi < 6 jam, amniotomi dan infus oksitosin.
2)      Sedang / Berat : resusitasi cairan, atasi anemia (transfusi darah), partus pervaginam bila < 6 jam (amniotomi dan infus oksitosin); bila perkiraan partus > 6 jam, lakukan seksio sesarea.
b.      Tidak terdapat renjatan : usia gestasi 36 minggu atau 2500 gram.
Solusio plasenta derajat ringan/sedang/berat bila persalinan lebih dari 6 jam, lakukan seksio sesarea.
c.       Terdapat renjatan :
Atasi renjatan, resusitasi cairan dan transfusi darah. Bila renjatan tidak teratasi, upayakan tindakan penyelamatan yang optimal. Bila renjatan dapat diatasi, pertimbangkan untuk seksio sesarea bila janin hidup atau partus lebih lama dari 6 jam.
2.      Terapi Bedah
a.       Partus per vaginam dengan kala dua dipercepat.
b.      Seksiosesarea atas indikasi medik.
c.       Seksiohisterektomi bila terdapat perdarahan postpartum yang tidak dapat diatasi dengan terapi medikamentosa atau ligasi arteri uterina. Ligasi hipogastrika hanya boleh dilakukan oleh operator yang kompeten.

2.2    ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KELAINAN KEHAMILAN SOLUSIO PLACENTA
A.  PENGKAJIAN
a.       Identitas klien secara lengkap
b.      Aktivitas atau istirahat.
Dikaji secara subyektif yang terdiri dari data tidur istirahat 24 jam terakhir, pekerjaan, kebiasaan aktivitas atau hobi. Dan secara obyektif, data terdiri dari pengkajian neuro muscular.
c.       Sirkulasi.
Secara subyektif mulai dari riwayat, peningkatan tekanan darah, masalah jantung, keadaan ekstremitas serta kelaian-kelainan yang disamapaikan oleh klien perihal sirkulasi. Dan secara obyektif yang terdiri dari TD berbagai posisi (duduk, berbaring, berdiri, baik kanan maupun kiri), nadi secara palpasi, bunyi jantung, ekstremitas (suhu, warna, pengisian kapiler, tanda hofman, varises), warna/sianosis diberbagai region tubuh.
d.      Integritas Ego.
Secara subyektif mulai dari kehamilan yang direncanakan, pengalaman melahirkan sebelumnya, sikap dan persepsi, harapan selama persalinan, hubungan keluarga, pendidikan dan pekerjaan (ayah), masalah financial, religious, faktor budaya, adanya faktor resiko serta persiapan melahirkan. Dan secara obyektif, terdiri dari respon emosi terhadap persalinan, interaksi dengan orang pendukung, serta penatalaksanaan persalinan.
e.       Eliminasi.
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan eliminasi
f.       Makanan atau cairan
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan makanan atau cairan yang masuk kedalam tubuh baik secara parenteral maupun enteral serta kelainan-kelainan yang terkait.
g.      Higiene.
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan kebersihan diri klien.
h.      Neurosensori.
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan kondisi neurosensori dari klien.
i.        Nyeri/Ketidaknyamanan.
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan rasa nyeri atau ketidaknyamanan dari klien akibat dari proses persalinan.
j.        Pernafasan.           
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan pernafasan serta kelainan- kelainan yang dialami dan kebiasaan dari klien.
k.      Keamanan.
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan alergi/sensitivitas, riwayat PHS, status kesehatan, bulan kunjungan prenatal pertama, masalah dan tindakan obstetric sebelumnya dan terbaru, jarak kehamilan, jenis melahirkan sebelumnya, tranfusi, tinggi dan postur ibu, pernah terjadi fraktur atau dislokasi, keadaan pelvis, persendian, deformitas columna fertebralis, prosthesis, dan alat ambulasi. Dan data objektif diperoleh dari suhu, integritas kulit (terjadi ruam, luka, memar, jaringan parut), parastesia, status dari janin mulai dar frekuensi jantung hingga hasil, status persalinan serta kelainan-kelainan terkait, kondisi dari ketuban, golongan darah dari pihak ayah ataupun ibu, screening test dari darah, serologi, kultur dari servik atau rectal, kutil atau lesi vagina dan varises pada perineum.
l.        Seksual.
Data subjektif di dapat dari periode menstruasi akhir serta keadaankeadaan terkait seksual dari ibu8 ataupun bayi dan juga riwayat melahirkan. Data objektif di dapat dari keadaan pelvis, prognosis untuk melahirkan, pemeriksaan bagian payudarah dan juga tes serologi.
m.    Interaksi Sosial.
Data subjektif di dapat dari status perkawinan, lama tahun berhubungan anggota keluarga, tinggal dengan, keluarga besar, orang pendukung, leporan masalah. Data objektif di dapat dari komunikasi verbal/non verbal dengan keluarga/orang terdekat, pola interaksi social (perilaku).

B.   DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.    Nyeri (akut) berhubungan dengan trauma jaringan.
2.    Ansietas berhubungan dengan ancaman yang dirasakan pada klien atau janin.
3.    Infeksi, berhubungan dengan resiko tinggi terhadap prosedur invasive

C.  INTERVENSI
Diagnosa 1: Nyeri (akut) berhubungan dengan trauma jaringan
Hasil yang diharapkan : klien akan mengungkapkan
penatalaksanaan/reduksi nyeri.
Intervensi :
1.    Bantu dengan penggunaan tekhnik pernafasan.
R/ mendorong relaksasi dan memberikan klien cara mengatasi dan mengontrol tingkat nyeri.
2.    Anjurkan klien untuk menggunakan teknik relaksasi. Berikan instruksi bila perlu.
R/ relaksasi dapat membantu menurunkan tegangan dan rasa takut, yang memperberat nyeri.
3.    Berikan tindakan kenyamanan (pijatan, gosokan punggung, sandaran bantal, pemebrian kompres sejuk, dll).
R/ meningkatkan relaksasi dan meningkatkan kooping dan kontrol klien.
4.    Kolaborasi memberikan sedatif sesuai dosis.
R/ meningkatkan kenyamanan dengan memblok impuls nyeri.
Diagnosa 2: Ansietas berhubungan dengan ancaman yang dirasakan pada klien/janin.
Hasil yang diharapkan : Klien akan melaporkan ansietas berkurang dan/ atau teratasi, tampak rileks.
Intervensi :
1.    Kaji status psikologis dan emosional
R/ adanya gangguan kemajuan normal dari persaliann dapat memperberat perasaan ansietas dan kegagalan. Perasaan ini dapat mengganggu kerja sama klien dan menghalangi proses induksi.
2.    Anjurkan pengungkapan perasaan.
R/ Klien mungkin takut atau tidak memahami dengan jelas kebutuhan terhadap induksi persalinan. Rasa gagal karena tidak mampu ”melahirkan secara alamiah” dapat terjadi.
3.    gunakan terminologi positif, hindari penggunaan istilah yang menandakan abnormalitas prosedur atau proses.
R/ Membantu klien/pasangan menerima situasi tanpa menuduh diri sendiri.
4.    Dengarkan keterangan klien yang dapat menandakan kehilangan harga diri.
R/ Klien dapat meyakini bahwa adanya intervensi untuk membantu proses persalinan adalah refleksi negatif pada kemampuan dirinya sendiri.
5.    Berikan kesempatan pada klien untuk memberi masukan pada proses pengambilan keputusan.
R/ Meningkatkan rasa kontrol klien meskipun kebanyakan dari apa yang sedang terjadi diluar kontrolnya.
6.    anjurkan penggunaan/kontinuitas teknik pernapasan dan latihan relaksasi.
R/ Membantu menurunkan ansietas dan bmemungkinkan klien berpartisipasi secara aktif.
Diagnosa 3: Infeksi,berhubungan dengan resiko tinggi terhadap prosedur invasive.
Hasil yang di harapkan : Klien akan bebas dari infeksi, pencapaian tepat waktu dalam pemulihan luka tanpa komplikasi.
Intervensi :
1.    Tinjau ulang kondisi/faktor risiko yang ada sebelumnya.
R/ Kondisi dasar ibu, seperti diabetes atau hemoragi, menimbulkan potensial risiko infeksi atau penyembuhan luka yang buruk. Risiko korioamnionitis meningkat dengan berjalannya waktu, membuat ibu dan janin pada berisiko. Adanya proses infeksi janin pada berisiko. Adanya proses infeksi dapat meningkatkan risiko kontaminasi janin.
2.    Kaji terhadap tanda dan gejala infeksi (misalnya, peningkatan suhu, nadi, jumlah sel darah putih, atau bau/warna rabas vagina).
R/ Pecah ketuban terjadi 24 jam sebelum pembedahan dapat mengakibatkan korioamnionitis sebelum intervensi bedah dan dapat mengubah penyembuhan luka.
3.    Kolaborasi melakukan persiapan kulit praoperatif; scrub sesuai protokol.
R/ Menurunkan risiko kontaminan kulit memasuki insisi, menurunkan risiko infeksi pascaoperasi.
4.    Kolaborasi melakukan kultur darah, vagina, dan plasenta sesuai indikasi.
R/ Mengidentifikasi organisme yang menginfeksi dan tingkat keterlibatan.
5.    Kolaborasi dalam mencatat hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht); catat perkiraan kehilangan darah selama prosedur pembedahan.
R/ Risiko infeksi pasca-melahirkan dan penyembuhan buruk meningkat bila kadar Hb rendah dan kehilangan darah berlebihan.
6.    Kolaborasi dalam memberikan antibiotik spektrum luas pada pra operasi.
R/ Antibiotik profilaktik dapat dipesankan untuk mencegah terjadinya proses infeksi, atau sebagai pengobatan pada infeksi yang teridetifikasi.

2.3    PARTUS LAMA
A.  Pengertian
Partus lama adalah suatu keadaan dari suatu persalinan yang mengalami kemacetan dan berlangsung lama sehingga timbul komplikasi ibu maupun janin (anak).
Partus lama adalah fase laten lebih dari 8 jam. Persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih, bayi belum lahir. Dilatasi serviks di kanan garis waspada persalinan aktif
Partus lama :   Persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primi dan lebihdari 18 jam pada multi (maternal neonatal).
Partus lama  :   partus yang melebihi batas waktu partus normal

B.  Etiologi
Sebab-sebab terjadiya partum lama ini adalah multi komplek dan tentunya saja tergantung pada pengawasan selagi hamil, pertolongan yang baik dan pelaksanaannya.
Faktor-faktor penyebab adalah antara lain:
a.         Kelainan letak janin
b.         Kelainan-kelainan panggul
c.         Kelainan his
d.        Pimpinan partus yang  salah
e.         Janin besar atau ada kelainan kongeital
f.          Primitua
g.         Perut gantung grande multi
h.         Ketuban pecah dini

C.  Patofisiologi
Penyebab kemacetan dapat karena
a.         Faktor Panggul : kesempitan panggul
b.         Faktor anak : kelainan letak
c.         Faktor tenaga : hipotenia
d.        Faktor penolong : pimpinan yang salah
1.      Faktor panggul
a)      Kesempitan pada pintu atas panggul
pintu atas panggul dianggap sempit apabila conjugata vera kurang dari 10cm atau diameter transversa kurang dari 12 cm. oleh karena pada panggulsempit kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh pintu atas panggul, maka dalam hal ini Serviks uteri kurang mengalami tekanankepala. Apabila pada panggul sempit pintu atas panggul tidak tertutupdengan sempurna oleh kepala janin, ketuban bisa pecah pada pembukaankecil dan ada bahaya pula terjadinya prolapsus funikuli.
b)      Kesempitan pintu panggul tengah
ukuran terpenting adalah distansia interspinarum kurang dari 9.5 cm perlukita waspada terhadap kemungkinan kesukaran pada persalinan, apabiladiameter sagitalis posterior pendek pula.
c)      Kesempitan pintu bawah panggul
bila diameter transversa dan diameter sagitalis posterior kurang dari 15cm, maka sudut arkus pubis mengecil pula (<80°) sehingga timbulkemacetan pada kelahiran janin ukuran biasa.
2.      Faktor Anak
Letak : Defleksi
a)      Presentasi Puncak Kepala
b)      Presentasi Muka
c)      Presentasi Dahi
Posisi Oksiput Posterior PersistenKadang – kadang ubun – ubun kecil tidak berputar ke depan, tetapi tetap berada di belakang
d)     Letak belakang kepala ubun – ubun kecil melintang karena kelemahanhis dan kepala janin bundar.

Letak tulang ubun – ubun
1.      Positio occiput pubica (anterior)Oksiput berada dekat simfisis
2.      Positio occiput sacralis (posterior)Oksiput berada dekat sakrum.
·      Letak sungsang
·      Letak Lintang
3.      Kelainan tenaga
Inersia uteri adalah his yang sifatnya lebih lemah, lebih singkat dan lebih jarang dibandingkan dengan his yang normal.
·      Inersia Uteri Primer Kelemahan his timbul sejak dari permulaan persalinan.
·      Sinersia Uteri Sekunder Kelemahan his yang timbul stelah adanya his yang kuat teratur dandalam waktu yang lama.Persalinan normal rata-rata berlangsung tidak lebih dari 24 jam dihitungdari awal pembukaan sampai lahirnya anak.
D.      Manifestasi Klinis
1.    Tanda – tanda kelelahan dan intake yang kurang
a.    Dehidrasi, nadi cepat dan lemah
b.    Metorismus
c.    Febris
d.   His yang hilang/ melemah
2.    Tanda – tanda rahim pecah (rupture uteri)
a.    Perdarahan melaluli orivisium eksternum
b.    His yang hilang
c.    Bagian janin yang mudah teraba
d.   Robekan dapat meluas sampai cervix dan vagina
3.    Tanda infeksi intra uteri
a.    Keluar air ketuban berwarna keruh kehijauan dan berbau, kadang bercampur dengan meconium
b.    Suhu rectal > 37,50 c
4.    tanda gawat janin
a.    Air ketuban bercampur dengan mekonium
b.    Denyut jantung janin irreguler
c.    Gerak anak berkurang atau hiperaktif ( gerak konfulsif)

E.       Pemeriksaan Diagnostik
1.      Pemeriksaan laboratorium rutin (Hb dan urinalisis serta protein urine).
2.      Pemeriksaan laboratorium khusus.
3.      Pemeriksaan ultrasonografi.
4.      Pemantauan janin dengan kardiotokografi.
5.      Amniosentesis dan Kariotiping.

F.       Komplikasi
1.    Ibu
a.    Infeksi sampai sepsis
b.    Dehidrasi,Syok,Kegagalan fungsi organ-organ
c.    Robekan jalan lahir
d.   Robekan pada buli-buli,vagina,uterus dan rektum.
2.         Anak
a.    Gawat janin dalam rahim sampai meninggal
b.    Lahir dalam asfiksia berat sehingga menimbulkan cacat otak menetap
c.    Trauma persalinanPatah tulang,dada,lengan,kaki,kepala karena pertolongan persalinandengan tindakan.

G.      Penatalaksanaan
Terapi nonfarmakologi
1.    Memperbaiki keadaan umum ibu
a.    Koreksi cairan ( rehidrasi)
b.    Koreksi keseimbangan asam basa
c.    Koreksi keseimbangan elektrolit
d.   Pemberian kalori
e.    Pemberantasan infeksi
f.     Penurunan panas
2.    Mengakhiri persalinan dengan cara tergantung dari penyebab kemacetan atau anak hidup atau mati. Sebaiknya tindakan pertama dilakukan lebih dahulu sampai kondisi ibu optimal untuk dilakukan tindakan kedua, diharapkan dalam 2-3 jam sudah ada perbaikan
3.    Bila pembukaan lengkap dan syarat-syarat persalinan pervaginam terpenuhi maka dapat dilakukan ekstraksi vacum, ekstraksi forcep, atau perforasi kranioflasi
4.    Bila pembukaan belum lengkap dilakukan sectio caesarea. Persalinan normal berlangsung lebih kurang 14 jam, dari awal pembukaan sampai lahirnya anak
Apabila terjadi perpanjangan dari
1)      Fase laten (primi : 20 jam, multi : 14 jam)
2)      fase aktif (primi: 1,2 cm/ jam, multi 1 ½ cm/ jam)
3)      kala III (primi : 2 jam, multi : 1jam)
maka disebut partus lama. Partus lama jika tidak segera diakhiri akan menimbulkan :
a.    Kelelahan pada ibu karena mengejan terus-menerus sedangkan intake kalori biasanya berkurang
b.    dehidrasi dan gangguan keseimbangan asam basa/ elektrolit karena intake cairan yang kurang
c.    gawat janin sampai kematian karena asfiksia dalam jalan lahir.
d.   infeksi rahim, timbul karena ketuban pecah lama sehingga terjadi infeksi rahim yang dipermudah karena adanya manipulasi penolong yang kurang steril
e.    perlukaan jalan lahir, timbulkan persalinan yang traumatik
Terapi farmakologi
1.    Perbaiki keadaan umum ibu :- Rehidrasi : Dekstroset 5 – 10 %, 500 cc dalam 1 – 2 jam pertama, selanjutnya tergantungproduksi urine-
2.    Pemberian Antibiotik :
Penisilin Prokain 1 juta IU Intramuscular
Streptomisin : 1 gr Intramuscular
3.    Obsrvasi 1 jam, kecuali bila keadaan mengharuskan untuk segera bertindak.

2.4    ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PERSALINAN PARTUS LAMA
A.  Pengkajian
1)   Anamnesa
a.    Biodata meliputi: Nama, Umur mengetahui usia ibu apakah termasuk resiko tinggi / tidak (terlalu muda apabila < 20 tahun atau terlalu tua > 35 tahun), Pendidikan pemberian informasi yang tepat bagi klien, pekerjaan
b.    Keluhan Utama.
Pada umumnya klien mengeluh nyeri pada daerah pinggang menjalar ke perut, adanya his yang makin sering, teratur, keluarnya lendir dan darah, perasaan selalu ingin buang air kemih, bila buang air kemih hanya sedikit-sedikit (Cristina’s Ibrahim, 1993,7).
c.    Riwayat penyakit sekarang .
Dalam pengkajian ditemukan ibu hamil dengan usia kehamilan anatara 38 –42 minggu (Cristina’s Ibrahim, 1993,3) disertai tanda-tanda menjelang persalinan yaitu nyeri pada daerah pinggang menjalar ke perut, his makin sering, tertaur, kuat, adanya show (pengeluaran darah campur lendir).kadang ketuban pecah dengan sendirinya. (Ida Bagus Gde Manuaba, 1998; 165).
d.   Riwayat penyakit dahulu.
Adanya penyakit jantung, Hypertensi, Diabitus mielitus, TBC, Hepatitis, penyakit kelamin, pembedahan yang pernah dialami, dapat memperberat persalinan.
e.    Riwayat penyakit keluarga.
Adanya penyakit jantung, hipertensi, diabitus mielitus, keturunan hamil kembar pada klien, TBC, Hepatitis, Penyakit kelamin, memungkinkan penyakit tersebut ditularkan pada klien, sehingga memperberat persalinannya.
f.     Riwayat Obstetri.
·  Riwayat haid.
Ditemukan amenorhhea (aterm 38-42 minggu), prematur kurang dari 37 minggu.
·  Riwayat kebidanan.
Adanya gerakan janin, rasa pusing,mual muntah, daan lain-lain. Pada primigravida persalinan berlangsung 13-14 jam dengan pembukaan 1cm /jam, sehingga pada multigravida berlangsung 8 jam dengan 2 cm / jam
g.    Riwayat psikososialspiritual dan budaya.
Perubahan psikososial pada trimester I yaitu ambivalensi, ketakutaan dan fantasi .Pada trimester II adanya ketidak nyamanan kehamilan (mual, muntah), Narchisitik, Pasif dan introvert. Pada trimester III klien merasa tidak feminin lagi karena perubahan tubuhnya,ketakutan akan kelahiran bayinya,distress keluarga karena adaanya perasaan sekarat selama persalinan berlangsung
h.    Pola Kebutuhan sehari-hari.
·  Nutrisi
Adanya his berpengaruh terhadapkeinginan atau selera makan yang menurun.
·  Istirahat tidur.
Klien dapat tidur terlentang,miring ke kanan / kiri tergantung pada letak punggung anak,klien sulit tidur terutama kala I – IV.
·  Aktivitas.
Klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya, terbatas pada aktivitas ringan, tidak membutuhkan tenaga banyak, tidak mebuat klien cepat lelah, capai, lesu.Pada kala I apabila kepala janin telah masuk sbagian ke dalam PAP serta ketuban pecah, klien dianjurkan duduk / berjalan-jalan disekitar ruangan / kamar bersalin.. Pada kala II kepala janin sudah masuk rongga PAP klien dalam posisi miring ke kanan / kiri .
·  Eliminasi.
Adanya perasaan sering / susah kencing selama kehamilan dan proses persalinan. Pada akhir trimester III dapat terjadi konstipasi.
·  Personal Hygiene.
Kebersihan tubuih senantiasa dijaga kebersihannya.Baju hendaknya yang longgar dan mudah dipakai, sepatu / alas kaki dengan tumit tinggi agar tidak dipakai lagi.
·  Seksual.
Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual / fungsi dari sek yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan dan nifas.
2)   Pemeriksaan fisik
a.    Pemeriksaan fisik umum
a)    Kesan umum
·      Apakah tampak sakit
·      Bagaimana kesadarannya
·      Apakah tampak pucat ( anemis )
b)   Pemeriksaan tanda vital
·      Tekanan darah
·      Nadi
·      Suhu
·      Pernafasan
b.    Pemeriksaan khusus abdomen
a)    Kesan abdomen
·      Perut kembung
·      Apakah tampak gerak janin
b)   Pemeriksaan Leopold
c)    Terdapat tanda abdominal, seperti:
·      Rasa nyeri berlebihan
·      Tanda cairan bebas dengan abdomen
·      Kesan lingkaran Bandle meningkat/ tinggi
·      Bagian janin mudah diraba
·      Tampak perdarahan pervaginam
d)   Pemeriksaan DJJ
·      DJJ normal antara 120-160
·      Keteraturan
e)    Apakah disertai pengeluaran mekonium pada letak kepala
c.    Pemeriksaan dalam
Pemeriksaan dalam sebaiknya dilakukan setiap 4 jam selama pada kala I pada persalinan, dan setelah selaput ketuban pecah.
a)    Pada setiap pemeriksaan dalam catatlah hal-hal sebagai berikut;
·      Warna cairan amnion
·      Dilatasi serviks
·      Penurunan kepala (yang dapat dicocokkan dengan periksa luar)
b)   Jika serviks belum membuka pada pemeriksaan dalam pertama, mungkin diagnosis inpartum belum dapat ditegakkan.
·      Jika terdapat kontraksi yanag menetap, periksa ulang wanita tersebut setelah 4 jam untuk melihat perubahan pada serviks. Pada tahap ini, jika serviks terasa tipis dan terbuka maka wanita tersebut dalam keadaan inpartu, jika tidak terdapat perubahan, maka diagnosisnya adalah persalinan palsu.
c)    Pada kala II persalinan lakukan pemeriksaan dalam setiap jam.
Periksa luar
Periksa dalam
Keterangan
5/5

4/5


3/5

2/5

1/5

0/5
H I

H I-II


H II +

H II +

H III-H IV

H IV
Kepala di atas PAP, mudah digerakkan.
Sulikt digerakkan bagian terbesar kepala belum masuk panggul.
Bagian terbesar kepala belum masuk panggul.
Bagian terbesar kepala sudah masuk panggul.
Kepala di dasar panggul.
Di perineum

Keterangan:
Periksa luar dengan cara palpasi
Periksa dalam dengan VT (Vaginal Touch)

B.  Diagnosa Keperawatan
1.    Kekurangan volume cairan berhubungan dengan pemanjangan persalinan dan pembatasan cairan/ tidak adekuatnya intake cairan.
2.    Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan tidak efektifnya dalam mengikuti proses persalinan.
3.    Resiko infeksi berhubungan dengan ketuban pecah, adanya perangsangan pada vagina dengan menggunakan alat seperti : kateter.
4.    Gangguan perfusi jaringan plasenta fetal distres berhubungan dengan memanjangnya proses persalinan.

C.  Intervensi
Diagnosa 1: Kekurangan volume cairan berhubungan dengan pemanjangan persalinan dan pembatasan cairan/ tidak adekuatnya intake cairan
Tujuan : Rehidrasi cairan pasien tercapai dalam proses persalinan
Intervensi :
1.    pemberian cairan IV sesuai program pengobatan
Rasional : cairan IV menggantikan cairan yang hilang dalam tubuh
2.    cek bibir pasien dan kekeringan membran mukosa dan turgor kulit
Rasional : dengan pengkajian klinik tahu tanda-tanda dehidrasi
3.    monitor cairan pasien intake dan output
Rasional : membantu untuk mengetahui keseimbangan cairan dalam tubuh
Diagnosa 2: Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan tidak efektifnya dalam mengikuti proses persalinan
Tujuan :Pengurangan rasa nyeri yang dialami selama proses persalinan
Intervensi :
1.    Bantu pasien untuk memberikan support dengan menunggu pasien selama mungkin
Rasional : dengan kehadiran perawat secara kekeluargaan mengurangi rasa nyeri
2.    Pimpin pasien dalam teknik bernafas dan latihan relaksasi
Rasional : mengurangi rasa tidak nyaman
3.    Memberikan rasa nyaman, elusan pinggang dan penggantian posisi
Rasional : mengurangi ketidaknyamanan dan menolong untuk rileks
Diagnosa 3: Resiko infeksi berhubungan dengan ketuban pecah, adanya perangsangan pada vagina dengan menggunakan alat misal : kateter
Tujuan :Tidak terjadi tanda – tanda infeksi sebagai akibat distosia
Intervensi
1.    Monitor suhu, nadi tiap 2 jam
Rasional : peningkatan nadi adalah salah satu tanda infeksi
2.    Dilakukan vulva higiene sebelum tindakan intra vaginal ( dengan menggunakan bahan desinfektan yodium bila tidak alergi dengan yodium
Rasional : dapat mengurangi masuknya kuman/ bakteri pada kulit selama tindakan
3.    Penggunaan sarung tangan steril serta teknik yang baik dan benar selama tindakan intra vaginal
Rasional : meminimalkan masuknya kuman
4.    Perlakukan terhadap intra vaginal jika ada indikasi
Rasional: dengan menggunakan pengkajian dan monitoring dapat mengurangi kemungkinan rupturnya membran             ( ketuban)
Diagnosa 4 : gangguan perfusi jaringan plasenta fetal distres berhubungan dengan memanjangnya proses persalinan
Tujuan :perkembangan bunyi jantung janin baik
Intervensi :
1.    Observasi tanda-tanda fetal distres
Rasional : penurunan indikasi terjadinya fetal distres
2.    Observasi warna campuran amnion
Rasional : mekonium keruh atau tidak bersih indikasi fetal distres
3.    Posisi klien miring ke posisi lateral
Rasional : pasisi ini mengalirkan darah ke plasenta bertambah




























BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Solulusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya sebelum janin lahir diberi beragam sebutan; abruption plasenta, accidental haemorage. Keadaan klien dengan solution plasenta memiliki beberapa macam berdasarkan tingkat keparahannya, tingkat keparahan ini dilihat dari volume perdarahan yang terjadi mulai dari solutio ringan hingga berat. Trauma langsung abdomen, hipertensi ibu hamil, umbilicus pendek atau lilitan tali pusat, janin terlalu aktiv sehingga plasenta dapat terlepas, tekanan pada vena kafa inferior, dan lain-lain diketahui bahwa sebagai penyebab dari solution plasenta. Beberapa faktor yang menjadi faktor predisposisi solution plasenta itu sendiri didapat dan diketahui mulai dari faktor fisik dan psikologis dengan kata lain ditinjau dari kebiasaan-kebiasaan klien yang dapat mendukung timbulnya solution plasenta. Adapun komplikasi dari nadi, jumlah sel darah putih, atau bau/warna rabas vagina). pada ibu dan janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas, usia kehamilan dan lamanya nadi, jumlah sel darah putih, atau bau/warna rabas vagina). berlangsung. Komplikasi terparah dari solution plsenta dapat mengakibatkan syok dari perdarahan yang terjadi, keadaan seperti ini sangat berpengaruh pada keselamatan dari ibu dan janin. Penatalaksanaan dari solution plaseenta dapat dilakukan secara konservatif dan secara aktif. Masing-masing dari penatalaksaan tersebut mempunyai tujuan demi keselamatan baik bagi ibu, janin, ataupuun keduanya.
Partus lama adalah suatu keadaan dari suatu persalinan yang mengalami kemacetan dan berlangsung lama sehingga timbul komplikasi ibu maupun janin (anak).
1.    Kelainan letak janin
2.    Kelainan-kelainan panggul
3.    Kelainan his
4.    Pimpinan partus yang  salah
5.    Janin besar atau ada kelainan kongeital
6.    Primitua
7.    Perut gantung grande multi
8.    Ketuban pecah dini


3.2    Saran
1.    Diharapkan perawat serta tenaga kesehatan lainnya mampu memahami dan mendalami dari solution plasenta dan partus lama.
2.    Perawat serta tenaga kesehatan lainnya mampu meminimalkan factor risiko dari solution plasenta dan partus lama demi mempertahankan dan meningkatkan status derajat kesehatan ibu dan anak.
3.    Institusi kesehatan terkait dapat menyediakan dan mempersiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalm kejadian-kejadian abnormalitas ibu terkait dengan kehamilan dan persalinan.
4.    Masyarakat mampu dan mau mempelajari keadaan abnormal yang terjadi pada mereka sehingga para tenaga kesehatan dapat memberikan tindakan secara dini dan mampu mengurangi jumlah mortalitas padaibu dan janin.
5.    Pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dapat mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
6.    Mahasiswa dengan latar belakang medis sebagai calon tenaga kesehatan mampu menguasai baik secara teori maupun skil untuk dapat diterapkan pada masyarakat secara menyeluruh.

PENGERTIAN

adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri baik sebagian atau utuh setelah kehamilan 20 minggu atau sebelum janin lahir
DIAGNOSA
1.Nyeri (akut) berhubungan dengan trauma jaringan.
2.Ansietas berhubungan dengan ancaman yang dirasakan pada klien atau janin.
3.Infeksi, berhubungan dengan resiko tinggi terhadap prosedur invasive

INTERVENSI
Dx 1 :
1. Bantu dengan penggunaan tekhnik pernafasan.
2. Berikan tindakan kenyamanan (pijatan, gosokan punggung, sandaran bantal, pemebrian kompres sejuk, dll).
Dx 2 :
1. Kaji status psikologis dan emosional
2. Anjurkan pengungkapan perasaan.
Dx 3 :
1. Tinjau ulang kondisi/faktor risiko yang ada sebelumnya
2. Kaji terhadap tanda dan gejala infeksi (misalnya, peningkatan suhu, nadi, jumlah sel darah putih, atau bau/warna rabas vagina).

ETIOLOGI

Hipertensi kronik, trauma eksternal, tali pusat pendek, defisiensi gizi, merokok, konsumsi alkohol, penyalah gunaan kokain, umur ibu yang tua.

 





                                                                                                                       
PATOFISIOLOGI

Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua basalis yang kemudian terbelah dan meningkatkan lapisan tipis yang melekat pada mometrium sehingga terbentuk hematoma desidual yang menyebabkan pelepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut.
Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebabkan hematoma retro plasenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah, hingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut. Selanjutnya darah yang mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban.



PENATALAKSANAAN
Tidak Terdapat Renjatan usia gestasi < 36 minggu
Ringan :Pasien tirah baring, atasianemia Sedang / Berat :USG resusitasi cairan, atasi anemia (transfusi darah),
Tidak terdapat renjatan : usia gestasi 36 minggu
bila persalinan lebih dari 6 jam, lakukan seksio sesarea.
Terdapat renjatan :
Atasi renjatan, resusitasi cairan dan transfusi darah. pertimbangkan untuk seksio sesarea bila janin hidup atau partus lebih lama dari 6 jam.







PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1.     Pemeriksaan laboratorium
2.     Pemeriksaaan Ultrasonografi (USG)
3.     Kardioktokgrafi : untuk mengetahui kesejahteraan janin

MANIFESTASI

Perdarahan biasanya pada trimester ketiga, perdarahan pervaginan berwarna kehitam-hitaman yang sedikit sekali dan tanpa rasa nyeri sampai dengan yang disertai nyeri perut, uterus tegang, perdarahan pervaginan yang banyak, syok dan kematian janin intra uterin.

SOLUSIO PLACENTA
KOMPLIKASI
1.        Syok perdarahan.
2.        Gagal ginjal.
3.        Kelainan pembekuan darah.
4.        Apoplexi uteroplacenta (Uterus couvelaire)

 
















DAFTAR PUSTAKA

Mochtar, Rustam.1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC
Manuaba, Chandarnita, dkk,. 2008. Gawat-darurat obstetri-ginekologi & obstetriginekologi sosial untuk profesi bidan. Jakarta: EGC.
Prawirohardjo S, Hanifa W. 2002. Kebidanan Dalam Masa Lampau, Kini dan Kelak. Dalam: Ilmu Kebidanan, edisi III. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Sarwono, 2007. Ilmu Kebidanan . Jakarta : PT. Bina Pustaka Sarwono prawiroharjo
http://endribehepy.blogspot.com/2010/09/lp-dan-askep-solusio-plasenta.html diakses dan di unduh tanggal 1 Mei 2013 jam 09.30 WIB
http://binbask.blogspot.com/2013/01/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html diakses dan di unduh tanggal 1 Mei 2013 jam 09.32 WIB
http://rico-kumpulanaskep.blogspot.com/ diakses dan di unduh tanggal 1 Mei 2013 jam 09.38 WIB
http://hakimdeio.blogspot.com/2009/10/partus-lama.html diakses dan di unduh tanggal 1 Mei 2013 jam 09.39 WIB
http://sahrilramadhan.blogspot.com/2011/06/askep-partus-lama.html diakses dan di unduh tanggal 1 Mei 2013 jam 09.42 WIB
http://axes364yahoo.blogspot.com/2011/08/partus-lama.html diakses dan di unduh tanggal 1 Mei 2013 jam 09.42 WIB
http://oyingw.blogspot.com/2011/12/askep-persalinan-lama.html diakses dan di unduh tanggal 1 Mei 2013 jam 09.43 WIB